Sale!

Klik Desa: Dari Lapak ke Layar

Original price was: Rp150.000,00.Current price is: Rp100.000,00.

200 in stock

SKU: 216-816 Category: Tag:

Description

Perubahan sosial pada tingkat lokal tidak selalu ditandai dengan hadirnya program besar atau intervensi yang rumit. Sering kali, transformasi bermula dari pengenalan terhadap hal-hal yang sebenarnya telah ada di sekitar Masyarakat sumber daya alam yang terabaikan, ketrampilan yang tak pernah dipetakan, atau jejaring sosial yang bekerja secara informal namun efektif.

Buku ini berangkat dari kesadaran sederhana itu: bahwa untuk memahami dinamika desa, diperlukan pendekatan yang bersandar pada pengenalan terhadap kekuatan yang telah melekat dalam keseharian masyarakat, bukan pada apa yang mereka kekurangan. Dalam konteks ini, pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) menjadi titik tolak eksplorasi, bukan sebagai model pembangunan yang mutlak benar, melainkan sebagai alat bantu untuk menyorot bagaimana relasi sosial, praktik ekonomi, dan ekspresi budaya di tingkat desa sebenarnya memiliki fondasi yang lebih kuat dari pada yang selama ini diasumsikan. Buku ini merekam proses kerja kolektif di Desa Tawangrejo, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi—sebuah desa yang sedang mengembangkan potensi UMKM, memelihara tradisi lokal, dan sekaligus mencoba menjawab tantangan digitalisasi melalui langkah- langkah yang bersahaja namun kontekstual.

Sebagaimana yang digagas oleh Edi Suharto (2009), dimana proses meningkatkan keberdayaan individu dan kelompok masyarakat melalui pemahaman terhadap kekuatan internal serta perluasan akses terhadap sumber daya eksternal. Dalam kerangka ini, intervensi dari luar bukan dimaksudkan untuk menggantikan, tetapi justru memperkuat prakarsa lokal agar mampu berkembang lebih adaptif terhadap tantangan zaman. Mahasiswa, dalam hal ini, hadir bukan sebagai agen perubahan tunggal, melainkan sebagai bagian dari mekanisme belajar sosial yang saling memengaruhi.

Alih-alih memulai dari apa yang perlu diperbaiki, pendekatan yang diambil dalam narasi buku ini lebih condong pada upaya mengidentifikasi apa yang telah berjalan, meski dalam bentuk yang belum tertata, untuk kemudian dikembangkan sesuai dengan kapasitas dan minat masyarakat sendiri. UMKM berbasis olahan pangan seperti keripik tempe, kopi robusta, atau minuman herbal bukan diposisikan sebagai ikon yang semata-mata dijadikan unggulan, tetapi sebagai ekspresi dari relasi yang kompleks antara alam, kerja manusia, dan konteks ekonomi yang tengah berubah. Dengan kata lain, fokus bukan pada hasil akhirnya, melainkan pada proses kolektif yang terbentuk di dalamnya.

Desa dalam buku ini tidak dilukiskan sebagai unit yang tertinggal ataupun sebaliknya, sebagai tempat yang ideal. Ia tampil sebagai ruang hidup yang terus bernegosiasi dengan berbagai perubahan: ekonomi, sosial, dan kultural. Penduduknya memiliki keterampilan yang berkembang secara organik; jaringan sosial bekerja bukan berdasarkan struktur formal saja, melainkan melalui praktik gotong royong, kerja-kerja informal, dan inisiatif yang muncul dari kebutuhan sehari-hari. Dalam banyak kasus, apa yang disebut sebagai pengembangan desa tidak lain adalah bagaimana warga menyusun ulang sumber daya mereka agar lebih relevan dengan tantangan hari ini, tanpa kehilangan logika sosial yang telah lama mereka jalankan.

Perhatian terhadap aspek digitalisasi dalam narasi ini pun tidak dimaknai sebagai bentuk takzim terhadap kemajuan teknologi, melainkan sebagai respon atas kenyataan pasar yang bergerak dan cara konsumsi masyarakat yang berubah. Kehadiran internet, media sosial, serta platform e-commerce diterima bukan sebagai bentuk superioritas modernitas, tetapi sebagai salah satu medium untuk memperluas akses, memperpendek jalur distribusi, dan menambah pilihan dalam mengelola usaha. Dengan cara inilah, adaptasi menjadi lebih rasional, tidak mendewakan teknologi, tetapi menjadikannya alat bantu yang dapat disesuaikan dengan ritme kerja masyarakat.

Sebagaimana banyak ditemukan dalam praktik pengabdian masyarakat, relasi antara pihak eksternal dan warga desa kerap kali berjalan tidak setara. Dalam buku ini, relasi semacam itu ditanggapi dengan sikap yang lebih reflektif. Mahasiswa yang terlibat dalam program Pengabdian Masyarakat ini tidak serta-merta ditempatkan sebagai agen perubahan, melainkan bagian dari proses belajar sosial yang tidak selalu berjalan mulus, namun terbuka terhadap koreksi dan negosiasi. Oleh karena itu, buku ini tidak menawarkan resep, apalagi cetak biru pembangunan desa. Ia lebih menyerupai catatan perjalanan dengan titik-titik temu antara inisiatif warga, keterbatasan struktural, dinamika organisasi lokal, dan intervensi dari pihak luar yang terjadi secara wajar.

Dengan narasi yang terbuka, dokumentasi yang kaya, dan pendekatan yang bersahaja, buku ini memberikan gambaran bahwa praktik pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus monumental. Ia bisa dimulai dari hal-hal yang kecil, selama dilakukan dengan ketelitian, kepekaan, dan pengakuan bahwa masyarakat lokal bukan objek, melainkan subjek yang sepenuhnya mampu berpikir dan bertindak dalam kerangka mereka sendiri.

Additional information

Weight 0,2 kg
Dimensions 14,8 × 21 cm

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Klik Desa: Dari Lapak ke Layar”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *